Riset harus menjadi roh PT ke depan, karena dari dunia penelitian itulah, PT dapat menunjukkan eksistensinya. Karena alasan tersebut, paket bantuan pemerintah kepada sejumlah PT di Indonesia akan segera ditingkatkan rata-rata 45 % dari besaran dana riset tahun lalu.
Sebagai contoh, jika pada tahun 2008-2009, dana riset yang masuk ke PT “hanya” Rp 5 triliun, tahun 2010-2011 direncanakan meningkat menjadi Rp 9,5 triliun.
Dari hasil evaluasi dana riset yang masuk PT oleh Dikti disebutkan bahwa selama puluhan tahun riset yang dikembangkan kalangan PT lebih banyak bersifat riset dasar dan pemula, dan belum mesuk dalam ranah sustainable researh.
Yakni riset berkelanjutan yang merupakan kerja kolektif-lintas stakeholders sehingga output riset membawa dampak signifikan.
Tak hanya kepada kemajuan dan perkembangan teori-teori aktual, pro-lingkungan; tetapi bahkan menjawab persoalan krusial rakyat-bangsa Indonesia itu sendiri. (Kompas, 8/10/2009).
Sayang, penegasan tersebut berulang kali disampaikan hampir setiap pergantian kepemimpinan di tubuh Diknas, tetapi tak jarang, berakhir sekedar utopia.
Persoalannya yang perlu dikajikembangkan adalah benarkan lemahnya insting riset kalangan PT kita lantaran sedikitnya dana yang disediakan atau persoalan klasik tata kelola riset yang belum mengikuti sistem sustaible research? Apa yang harus dilakukan semua pihak terkait sustainable research di dunia pendidikan tinggi kita?
Terapkan: Sustainable Research Hasil evaluasi Dikti (2008) lalu terkait tindaklanjut riset dari kalangan kampus secara gamblang menyebutkan perlunya kampus menerapkan paradigma sustainable research (SR).
Riset dengan konsepsi ini telah banyak dikembangkan di negara-negara maju, termasuk Jepang. SR memiliki perbedaan prinsipil jika dibandingkan dengan riset biasa (ordinary research=OR) yang kini justru banyak diterapkan di lembaga pendidikan tinggi negara-negara miskin-berkembang macam Indonesia.
Inilah perbedaan SR dan OR dimaksud.
(1) SR lebih diarahkan kepada output (untuk menyelesaikan masalah rakyat secara total), sedangkan OR lebih diarahkan kepada proses dengan kaidah-kaidah riset yang sangat teoritis namun miskin implementasi).
(2) SR butuh kerja lintas sektor-multi stakeholders, sedangkan OR hanya single actor yakni sekedar kalangan PT tanpa koordinasi dan terintegrasi dengan visi bangsa dan dunia usaha lainnya;
(3) SR memerlukan dana massif yang tekonsentrasi dengan skala prioritas yang ketat, sedangkan OR sangat minim karena pelibatan berbagai pihak dan sarana yang sempit;
(4) SR didesain untuk kepentingan rakyat-bangsa secara keseluruhan sedangkan OR sekadar “projek”, kepentingan jangka pendek kalangan PT (misalnya, menghabiskan dana anggaran yang disediakan tanpa terintegrasi dengan lembaga lain, memenuhui KUM dan sejenisnya).
Melihat fakta di lapangan, tak dipungkiri gaya dan model riset di PT banyak dihiasi oleh model OR diatas sehingga riset nyaris tanpa makna, kecuali sekedar menjadi bahan pergunjingan di level akademis atau dalam forum-forum “ngrumpi” para intelektual tanggung seperti seminar dan sejenisnya.
Setelah seremonial itu berhenti, berhenti pula hajatan riset kalangan PT, apalagi ketika KUM dan target-target jangka pendek bagi PT telah terpenuhi.
Dampaknya, dana milyaran bahkan triliunan setiap tahun hanya buat heboh yang akhirnya menjadi mubah.
Padahal jika ditelusuri lebih detail, banyak pakar-pakar riset asal Indonesia yang kini dipekerjakan di lembaga-lembaga riset dunia.
Banyak pula pakar-pakar iptek kita yang bekerja dibawah bendera bangsa lain. Tiap tahun negara juga harus menggelontorkan dana segar rata-rata lebih dari Rp 1 triliun untuk tugas belajar para dosen di Luar Negeri, di negara-negara maju.
Mereka juga dapat berprestasi dan lulusa dengan predikat standar figur negara-negara maju. Tetapi kenapa menjadi mubah ketika mereka kembali bekerja di Indonesia? Ada apa dengan tata kelola riset di PT kita itu? Akankan dibiarkan begini tanpa evaluasi menyeluruh ke depan?
Interkoneksi Pakar iptek dari Jepang, Prof Mi-zuro Ikada dari Kobe University me-nyebutkan, persoalan krusial dunia riset kampus sebenarnya bukanlah pada besaran dana.
Di Jepang, ba-nyak periset kampus yang juga miskin dana mandiri, tetapi karena kemampuan interkoneksi yang kuat dengan dunia usaha, pemerintah dan pihak asing, dunia riset bekerja dan berjalan sesuai rencana.
Disamping itu, menurut penulis buku the best seller, “How to Enhance Powerfull Research” (2007) itu kalangan kampus harus mengembangkan kompetensi interkoneksi dengan berbagai pihak terkait riset tersebut.
Interkoneksi itu strategis tidak saja akan membantu secara nyata untuk mendapatkan solusi atas problem riset sejak dini, tetapi juga sebagai trigger untuk mengukur nilai guna sebuah riset.
Karena bagaimanapun independensi sebuah riset, di masa depan, ia harus bermanfaat bagi banyak orang, bagi peningkatan kualitas dan martabat semua orang, rakyat keseluruhan.
Artinya riset macam OR ibarat “onani” para kaum seleb kampus untuk kepentingan dirinya sendiri tanpa menggagas pencerahan (aufhklarung) bagi masa depan rakyat-bangsa secara keseluruhan.
Di Jepang, ketika riset di suatu kampus oleh seorang dosen akan digelar, para periset menggelar public expose, yang bertujuan tak hanya mengundang kritik saran dari berbagai pihak, tetapi juga untuk menajamkan visi-misi riset sehingga sejak awal riset sudah diketahui luas oleh pemerintah, dunia industri, kalangan kampus dan masyarakat luas. Inilah SR yang visible di masa depan.
Untuk itu, sebelum kebiasaan riset gaya OR berputar-putar sekedar menghabiskan dana proyek, apalagi tanpa interkoneksi yang kuat dengan banyak pihak di luar kampus, sebaiknya segera didesain standarisasi riset kampus yang merupakan kerja bersama tersebut.
Dengan cara demikian, nilai guna, output dan tindaklanjut riset dapat terus dilakukan sehingga bermakna bagi peningkatan harkat dan martabat rakyat-bangsa Indonesia di masa-masa datang. Kinilah saatnya untuk memulai.
