
Pengembangan dan memberdayakan suatu perpustakaan merupakan suatu pilihan yang tepat untuk recovery pendidikan dan mengantarkan masyarakat ke arah masyarakat modern yang berperadaban.
Kompetisi masyarakat ditentukan oleh kemampuannya dalam memahami situasi dan merespon setiap kebutuhan zaman. salah satu untuk memenuhi kualifikasi ini adalah lewat pendidikan, sedangkan pendidikan bisa berjalan dengan baik apabila didukung oleh perpustakaan yang handal.
Perpustakaan yang andal di masa depan adalah perpustakaan yang memiliki kemampuan akses terhadap teknologi. Dalam hal ini, perpustakan digital merupakan perpustakaan yang dimotori oleh keunggulan teknologi. Sistem dan manajemennya telah didukung oleh teknologi serta koleksi-koleksinya berupa teknologi digital. Keberadaan digital library akan memberikan wajah baru dalam dunia perpustakaan, sedangkan image negatif yang telah memarginalisasikan perpustakaan akan terpecahkan. Di samping itu, digital library memiliki daya system pelayanan yang super efisien, akurat, dan cepat sehingga pemakai atau anggota perpustakaan akan merasa nyaman dan puas.
Preservasi terhadap koleksi-koleksi digital sangat mudah dan cepat dilakukan selama pustakawan yang bersangkutan memiliki kualifikasi yang memenuhi prinsip-prinsip bersyaratkan untuk pustakawan digital. Keandalan pustakawan tersebut akan menjadi barometer perwujudan digital library yang dapat menjadi model dari suatu perpustakaan alternative pada masa mendatang (wikipedia.org)
Untuk keperluan tersebut, pada hari Rabu, 8 Agustus 2010 di selenggarakan rapat koordinasi antar unit terkait dalam lingkungan Kementerian Riset dan Teknologi (KRT) dengan Lembaga Penelitian Non Kementerian di bawah Koordinasi KRT yang di pandu oleh Finarya Legoh, Asdep Data dan Informasi Iptek KRT dan diawali oleh Ade Komara, Staf Khusus Menristek, yang menyampaikan betapa pentingnya langganan jurnal ilmiah serta kesulitan memiliki akses ke jurnal ilmiah internasional saat ini. Untuk itu, mulai tahun 2010 ini KRT akan mengadakan kegiatan pengembangan digital library berupa penyediaan akses terhadap (langganan) jurnal ilmiah internasional yang dapat diakses oleh seluruh LPNK Ristek melalui infrastruktur jaringan yang juga akan dikembangkan dalam kegiatan ini.
Selanjutnya guna lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas kegiatan litbangrap iptek khususnya di LPNK Ristek, maka Digital library yang akan di buat oleh KRT diharapkan harus mempunyai suatu download system serta perlu adanya fitur search engine yang dikelola oleh pengelola yang handal serta terstruktur ”, ujar Engkos Koswara Staf Ahli Menristek bidang Informasi, komunikasi dan Transportasi, yang didukung pula oleh pernyataan Sirodjul Munir wakil dari BATAN.
Putut Irawan dan tim dari PDII LIPI menyampaikan bahwa, dulu para peneliti di LIPI sangat susah mencari jurnal ilmiah Indonesia tetapi sekarang LIPI sudah mempunyai ISJD. “Kita butuh suatu system yang terintegrasi, jangan berlanganan jurnal ilmiah dari penerbit yang sama”,ujar wakil LIPI. Sekarang ini sudah terjalin kerjasama antara LIPI dengan Dirjen Dikti dalam pengembangan digital library untuk mengakses jurnal ilmiah internasional, yaitu “Garuda”. Namun sayangnya penggunaannya masih kurang dari 30%, sehingga perlu adanya sosialisasi mengenai digital library yang lebih intensif”, lanjutnya.
Dalam kesempatan yang sama, Supriya dari BATAN dan Eti dari LAPAN menyampaikan berbagai kendala seputar akses ke Jurnal ilmiah baik dalam negeri maupun luar negeri, juga tentang akreditasi jurnal, di level nasional, perlu diupayakan 1 pintu dan “mungkinkah dikelola oleh KRT guna mengintegrasikan seluruh jurnal nasional ?”, Ujar beberapa peserta rapat lainnya.
Disamping itu, Dwi dari IPTEKNET menawarkan backup data center di Batam. IPTEKNET selama ini mengelola jaringan yang menghubungkan beberapa LPNK dan RISTEK. Terjadi diskusi tentang infrastruktur fisik yang dikelola IPTEKNET ini. “Apakah jaringan tersebut milik sendiri atau sewa”?, Tanya Haryanto Sahar Kabag Data dan Informasi KRT.
Kondisi saat ini, LIPI dan LAPAN serta BPPT sudah mempunyai digital library namun belum terberdayakan dengan maksimal seperti BPPT hanya mengakomodir untuk linknya, dimana banyak peneliti yang merujuk ke science direct juga adanya kendala infrastruktur jaringan tidak maksimal.
Sebagai penutup pertemuan rapat di sampaikan hal hal yang masih dimungkinkan untuk menggunakan server yang ada di LPNK, di harapkan akan diperbolehkan untuk download semua serta dipersiapkan dengan matang akan potensi proses pengelolaannya untuk mengintegrasikan fasilitas jaringan yang ada di LPNK Ristek. Untuk kepentiangan Nasional. [www.ristek.go.id]
