VIVAnews – Raksasa internet Google dilaporkan telah membeli perusahaan yang menguasai teknologi pemisahan isotop secara efektif. Teknologi ini terutama digunakan untuk program pengayaan uranium.Uranium olahan merupakan bahan dasar untuk membuat energi nuklir. Sumber TechCrunch dalam Google menyatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari Google Green Initiative. Google akan menggunakan teknologi itu untuk merancang dan membangun generator nuklir.
“Google telah mulai membangun pusat pengayaan uranium,” kata sumber lain dalam Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Laman GreenBeat melaporkan bahwa Google akhirnya memutuskan untuk meluncurkan unit untuk mendesain dan membangun panel tenaga surya, turbin angin, dan alat-alat penghasil energi lainnya. Nuklir, lanjut GreenBeat adalah langkah selanjutnya dari proyek tersebut.
Sejak tahun lalu, Google telah mempromosikan energi hijau. Awalnya mereka memasang panel tenaga surya di kantor pusat mereka di Mountain View, California, dan menanam modal di sejumlah perusahaan energi hijau melalui anak perusahaan, Google.org.
Ini diikuti dengan peluncuran Google PowerMeter, platform pengelolaan energi untuk digunakan di rumah yang memungkinkan pemilik rumah mengetahui jumlah energi yang mereka habiskan dan harus mereka bayar.
Kemudian, Google mengumumkan bahwa mereka mendapat izin dari Komisi Regulator Energi Federal untuk melakukan jual-beli energi. Google sendiri mengaku tidak berniat bersaing dengan penjual energi lain dan menyatakan hanya ingin berpartisipasi dalam pengembangan penelitian mengenai sumber teknologi baru.
