Jakarta – Pemerintah mendukung diimplementasikannya teknologi Wimax di Indonesia. Namun sayangnya, teknologi yang digunakan adalah 802.16d, teknologi yang telah ditinggalkan oleh negara lain di dunia.
“Untuk penerapan teknologi Wimax 802.16e, akan membutuhkan waktu lagi,” kata Arnold Djiwatampu, praktisi telekomunikasi di sela jumpa pers bertajuk Peranan Layanan Broadband Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Nasional Serta Tantangan Peningkatan Penetrasinya di Indonesia, 10 Desember 2009.
“Ketika itu, diusulkan Indonesia menggunakan teknologi 16d saja,” kata Arnold. “Karena selain digawangi perusahaan lokal, yakni TRG WiMAX dan Hariff, tingkat kandungan lokal dalam negerinya relatif lebih tinggi,” ucapnya.
Arnold menyebutkan, jika implementasi teknologi 16e disetujui, ia hanya menyayangkan kocek investasi yang terbuang selama 2-3 tahun belakangan ini, misalnya saja untuk dana R&D. “Sebagai informasi, riset yang melibatkan tiga universitas (UI, ITB, dan ITS) itu memakan kocek yang tidak sedikit,” ucapnya.
Menurut sejumlah kalangan, kata Arnold, standar 16d yang berarti nomadic alias tetap dinilai telah ditinggalkan dunia. “Saat ini, praktisi tengah mengembangkan 16e dan menuju ke mobile Wimax,” ucapnya.
Meski demikian, Arnold mengaku sebaiknya kita memang mengoptimalkan dulu yang sudah dimulai dan disepakati bersama, yaitu teknologi 802.16d. “Jangan biarkan kocek investasi yang sudah dikeluarkan pemerintah dalam jumlah besar menjadi sia-sia,” kata Arnold. “Nantinya, perlahan-lahan akan kita leverage ke tingkat yang lebih baik, baik 16e, 16m, dan seterusnya,” ucapnya.
Untuk mewujudkan implementasi Wimax 802.16d sendiri, menurut Arnold, perlu ada sinergi dari tiga elemen, mulai dari pemerintah, vendor, dan industri dalam negeri. “Harganya harus disesuaikan. Kita kan juga memikirkan perusahaan-perusahaan kecil agar bisa bersaing dengan perusahaan besar,” ucap Arnold [adminMSI/Vivanews.com]
